Rabu, 10 Juni 2009

Rumah

selalu saja ada romansa yang romantis. tiap kali menangisi sepi dan rumah yang lengang. keramik putih yang silang menyilang. uh… ingin aku berkeluh, melepas kesah. dan apa masih ada yang berarti; sedangkan hari ini begitu serupa dengan kemarin. mungkin yang membuatku masih sanggup bertahan adalah senantiasa ada mimpi yang menggantung bersama embun di sudut daun. meski kadang aku ragu. adakah itu mimpiku?


tapi…apa itu mimpi? apakah mimpi itu? apa mimpi itu semenakjubkan engkau…? mimpiku mungkin tak membuatmu terharu. tak juga membuat luruh lazuardi biru. tapi… bukankah kebersamaan yang sederhana lebih santun daripada sejuta kuntum mawar ranum, lebih berarti daripada seribu puisi tentang lengkung pelangi dan harihari bermatahari, dan lebih biru daripada selaksa gerimis rindu dan senyum malumalu?


lalu apa itu rumah? apakah itu adalah tempat dimana kita letakkan mimpi? bukankah tak ada tempat seindah rumah dan tak ada rumah seindah kenangan? mungkinkan mimpi itu merupakan suatu kenangan? ataukah mimpi dan kenangan itu masing2 mempunyai rumah sendiri? ataukah rumah itu akan kita bangun dengan mimpi dan kenangan kita?


ah…harapan yang terlalu indah seringkali hanya berakhir menjadi biji yang tak pernah bersemi. namun tetaplah, bahwa sebuah garis yang paling panjang sekalipun awalnya adalah sebuah titik kecil. maka kita rangkai titik demi titik, dan kita lalui jarak antar titik itu dengan senyum dan rasa syukur.


if those tears help our dreams come true, we won’t regret it

Tidak ada komentar:

Posting Komentar