Minggu, 05 Juli 2009

Ahasveros

Tiap pijar fajar sebelum menepi subuh, sebelum embun luruh, angin masih kuncupkuncup selimut kabut. Maka kubuka kembali peta, dengan titiktitik yang masih enggan bernama, dan belantara yang airmata, dan masa yang senantiasa tanya


Akulah pengembara. Setia kujelajahi cahaya. Pada tiangtiang langit kukibarkan seutas sepi. Mungkin angin tenggara sudi menyulam sehelai bendera. Sekembali aku dari negeri penantian mimpi. Ku kumandangkan pada purnama; sebab matahari selalu terbagi dan bumi terlalu suci kucemari. Luka.


Lalu tiap pagi yang mentari, aku lingkari angkaangka, di kalender yang ituitu juga. Sebab tiap tahun angka selalu sama. Hari tetap tujuh, bulan masih dua belas. Hanya aku selalu lupa, sudah berapa tahun hidup tanpa jiwa.

4 komentar:

  1. hey bayuu.. ada apa ini??
    heemm sepertina aku merasakan satu kehampaan dirimu **sotoy ya hehe..

    ayo seman9aaddd..
    meski hari dan aklender selalu tetap dan sama tapi buat hari hari menjadi lebih indah.. :)

    isi kembali jiwa jiwamu bayuu,aku tau kamu apsti bisa.. :)

    BalasHapus
  2. pertanyaannya bukan berapa tahun hidup tanpa jiwa..tapi bagaimana jiwa ini lebih berarti..kelak

    BalasHapus