Minggu, 28 Juni 2009

Sampah segala sumpah



maka ketika kuucapkan selamat tinggal, padamu kutanggalkan helaihelai rambut yang memutih. bukan melati, bukan arca malaikat tanpa hati atau kecupan sebilah belati. akulah manusia.

Sementara ditiaptiap tembok persimpangan, graffiti nama kita terukir begitu saja. entah siapa yang teriak, tibatiba serentak semua bergejolak. meski akhirnya cuma kita yang setia pada derik gerobak. sampah segala sumpah.

kemana lagi melarikan mimpi. mata, hari, hati terlalu gersang. tongtong sampah penuh deretan usang catatan pelajaran anakanak kecil bertema keadilan. Entah apa yang makna. Toh buku harian selalu sejelaga tungku batu bara. Mungkin kita yang masih enggan mengerti, menggali airmata di
padang kurusetra masih terlalu tanpaarti.

hanya andai mungkin masih kita punya. tentang esok, apalagi bulan depan, sungguh aku tak tahu. Hari ini lilin belum habis membakar diri. Nanti malam, kita bangun lagi mimpimimpi. Sambil menghancurkan mimpi yang kemarin lusa tak habis kita tangisi.

tapi……. aku pergi dulu. Jangan menunggudanmencari bila senja aku tak kembali. tidur, dan jelmakan mimpi kita esok hari. atau mungkin seabad lagi!

Kamis, 25 Juni 2009

Puisi untukmu

Aku butuh katakata sederhana
Untukku, untukmu,
Seperti dulu ketika aku
Masih mampu menuliskan
Sepi. Sesederhana ini :
“sepi;
Lalu kutulis sebaris puisi”
.
.
.

Sabtu, 20 Juni 2009

angan retak



sedangkan tiap saat yang mesti lenyap hanyalah sebuah entah
lalu bagaimana ketika waktu berlalu
apa engkau hanya duduk termangu dan menunggu?
sementara gegap gempita ribuan bayang, khayalan yang angan
bergelombang, menghentak apa yang kau sangka tak mungkin retak
ini seperti menjaga lambai api lilin di tengah badai
sedang engkau hanyalah setangkai lidi yang bermimpi
maka sesungguhnya akan tak pernah mengubur angan
hanya sekedar mata, hati,
dan apa yang engkau tempuh dengan selaksa sepi
yang membuat kita tak pernah sudi, mencela masa
lalu luka pun hanya tinggal kenangan dalam dada
dan hidup adalah apa yang senantiasa membuatmu terjaga
di sisimu, ada sebuah asa yang kadang terlupa namun tak pernah
sia-sia

…dan kampung halaman yang engkau pasti kan pulang…

Senin, 15 Juni 2009

Setelah diamku



Dan kesunyian yang sengaja ku ciptakan di dinding kamar kita, mengajakku berlari. Berkejaran dengan mimpi, lalu sembunyi. Tapi aku makin tak mengerti, arti semesta labirin airmata. Di pipimu. Maka di pintu lemari itu… di samping kaca tempatku dan dirimu mengukur waktu; ada secarik asa…

Aku tak lagi ingin berlari. Namun kadang dan seringkali, aku memilih pintu di sudut-sudut mataku. Dan kita pun bersitatap, dari pintu masingmasing.
Ada gemuruh dan bising. Berpusing dalam dada, dan kata.

Sungguh, aku tak mengenalmu saat itu… kecuali bahwa engkau adalah gadis yang ayu, yang kunikahi karena agamamu…

adapun deras bulir mutiara di merah pipimu dan isak tertahan di antara gelap, memaksaku merajuk padaNya… ah…lagi-lagi aku tak mampu. sembunyikan diri dan mimpi. antara tangisku sendiri…

Namun bulir airmatamu mematahkan keegoisanku…aku tak ingin engkau melihatku menangis…namun aku juga tak bisa membiarkanmu menangisi kesunyianku…

dan belantara kesedihan yang aku takjubkan, bersicepat dengan ketakutan : ‘maka nikmat Robb-mu yang manakah yang kamu dustakan?’

Aku sekedar mengingatkanmu, barangkali engkau lupa…dan akupun kadang bahkan seringkali lupa, maka ingatkanlah aku…

aku mencintaimu sayang…

Rabu, 10 Juni 2009

Rumah

selalu saja ada romansa yang romantis. tiap kali menangisi sepi dan rumah yang lengang. keramik putih yang silang menyilang. uh… ingin aku berkeluh, melepas kesah. dan apa masih ada yang berarti; sedangkan hari ini begitu serupa dengan kemarin. mungkin yang membuatku masih sanggup bertahan adalah senantiasa ada mimpi yang menggantung bersama embun di sudut daun. meski kadang aku ragu. adakah itu mimpiku?


tapi…apa itu mimpi? apakah mimpi itu? apa mimpi itu semenakjubkan engkau…? mimpiku mungkin tak membuatmu terharu. tak juga membuat luruh lazuardi biru. tapi… bukankah kebersamaan yang sederhana lebih santun daripada sejuta kuntum mawar ranum, lebih berarti daripada seribu puisi tentang lengkung pelangi dan harihari bermatahari, dan lebih biru daripada selaksa gerimis rindu dan senyum malumalu?


lalu apa itu rumah? apakah itu adalah tempat dimana kita letakkan mimpi? bukankah tak ada tempat seindah rumah dan tak ada rumah seindah kenangan? mungkinkan mimpi itu merupakan suatu kenangan? ataukah mimpi dan kenangan itu masing2 mempunyai rumah sendiri? ataukah rumah itu akan kita bangun dengan mimpi dan kenangan kita?


ah…harapan yang terlalu indah seringkali hanya berakhir menjadi biji yang tak pernah bersemi. namun tetaplah, bahwa sebuah garis yang paling panjang sekalipun awalnya adalah sebuah titik kecil. maka kita rangkai titik demi titik, dan kita lalui jarak antar titik itu dengan senyum dan rasa syukur.


if those tears help our dreams come true, we won’t regret it

Sabtu, 06 Juni 2009

Purnama 12

Mimpi itu kamu, siapa tahu

Berkelindan dengan resah dan

Kisah

Jejak malam senyap, merayap

Menata hujan sejak sore tadi

: gerimis bulan Juni

kita

Bersitatap, dari jendela masingmasing gelap

Dan ketika 12 purnama

Telah abadi

Mengekalkan sesaat, senja dan pagi

Maka benih cahaya itu

Fragmen ombak di pelabuhan kecil itu

Adalah algoritma tak sudah

Berkesah masih selaksa gundah

Seperti rangkaian pledoi malam dan matahari

Dalam bahasa embun yang tak pernah

Mengenal arti

: Aku Mencintai

Selasa, 02 Juni 2009

Nap Mat; Special Gift for Special Friend

you have a special friend? if so, then the prize on your friend. gifts you can approach. can make you feel for each other more.

if you want to give gifts confused what?

Give the gift that is useful. you can give this nap mat. or laundry bag. or you can choose towel warp. of your friends will be happy to receive it. although small, but sincerity makes your friend very happy.

Senin, 01 Juni 2009

Gold

Gold doesn’t laugh, doesn’t drink, doesn’t sing, and it doesn’t shed tears. It’s no different from a rock.