sebutir tanah merah masih sedikit tersisa di baju dan kerudung hitammu. Padahal dua minggu lalu baru saja kau cuci di tepian kali; meski memang sedikit kotor.Tadi pagi sepiring nasi dari tetangga yang baik hati; tak penuh memang; hanya kau pandangi penuh heran. Sepanjang hari yang kau makan hanya lamunan.
Si sulung meringis. Mau menangis bersama gerimis yang turun sejak kemarin sore. Tapi matanya sudah terlalu sembab. Terlalu banyak sebab.
Kau tengadah. Mungkin memohon anugerah. Sejak tengah malam hingga celoteh daun pisang mengusik minta ditebang. Kau memang ayu meski matamu tak lagi peduli waktu. Maafkan aku wahai cintaku
Kemarin sore sehabis maghrib, si bungsu menangis. Dia lapar. Begitu kami mengartikannya. Lalu diam. Begitu hening. Mungkin tertidur begitu lelap
“Tinggal kita berdua yang masih terjaga sayang”
begitu katamu malam itu
“ya, Dan seekor kucing dengan kepala ikan asin terpojok di dinding”
kataku
Tampilkan postingan dengan label mati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mati. Tampilkan semua postingan
Selasa, 21 Juli 2009
Kamis, 02 Juli 2009
Notasi sepi
Pernah ada rasa yang sayupsayup dalam kabut. Yang berdentang bersama detak jam, menanam rindu pada petak asa kerontang. Mungkin rintik gerimis atau tangis netes pada luka. maka sepanjang jalanan lengang di simpang kenangan kuukir graffiti mimpimimpi maupun sakit pada sunyi tersembunyi
Lalu aku begitu lelah. Memaknai ribuan darah dan rasa tenggelam dalam salah. Sebab sajaksajak lama terakrabi, memeram ingin yang tercabikcabik meronta ngeri. Bercerita pada langit, pada sepi yang memerikan ingatan tentang; dering telepon, catatan harian, lalu perih dan rintih yang paling
Karena musim membenamkan kepalaku pada tembok sementara sisa suara berlalu terlalu siasia, lewat udara,
: sepitakpernahmati
Seperti puisi
Lalu aku begitu lelah. Memaknai ribuan darah dan rasa tenggelam dalam salah. Sebab sajaksajak lama terakrabi, memeram ingin yang tercabikcabik meronta ngeri. Bercerita pada langit, pada sepi yang memerikan ingatan tentang; dering telepon, catatan harian, lalu perih dan rintih yang paling
Karena musim membenamkan kepalaku pada tembok sementara sisa suara berlalu terlalu siasia, lewat udara,
: sepitakpernahmati
Seperti puisi
Langganan:
Postingan (Atom)