Tampilkan postingan dengan label pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pagi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2009

Pagi...

Mereka saling bicara. Mungkin. Ya…mungkin tentang masa dan embun. Mungkin tentang daun yang tak lagi rimbun. Mungkin tentang birunya langit dan hijaunya cemara. Atau mungkin mereka sedang menertawaiku. Menertawai dunia.
Ah…burung gereja yang elok. Entah siapa yang bangun lebih dahulu pagi ini. Aku? Ataukah engkau? Entahlah. Yang penting kita sama-sama menikmati pagi bukan? Pagi yang terakhir, mungkin…

Bagiku, secangkir teh hangat dan semangkok mi instan, juga sekaleng biscuit. Dan bagimu, cemara itu, kabel listrik itu, atomatom air itu…
Dan lihatlah di bawah, seorang kakek mengumpulkan gugur daundaun di halaman. Ah…ku pikir dia juga menikmati pagi ini seperti kita. Menikmati dengan caranya sendiri tentunya.

Fiuh…kadang aku begitu merindukan saat-saat yang akan. Bersamanya. Sama-sama melihat kalian, sama-sama melihat kakek itu, sama-sama menikmati pagi, dan mungkin…sama-sama menulis sampah seperti ini…

Rabu, 20 Mei 2009

Mungkin tak selamanya bersama itu menyenangkan. Tapi kesendirian tetap saja jauh dari kata nyaman. Sedangkan sekelumit rindu di bening airmatamu tadi pagi, membuatku mengerti. Sayang, engkau cantik sekali tadi pagi…

Adalah frase usang yang akan menghampiri malam-malam setelah esok hari. Menunggu itu menakjubkan. Dan semoga kerinduan membawa canda tawa kita pada pagi yang nanti.
Aku menunggumu disini…di sisi sepi dan gemericik resah pagi. Mengenang sembari berharap setiap kenangan akan berulang dengan membawa serta makna dan cita yang mengingatkanku betapa engkau mengagumi pagi itu…

Pagi…saat kita membuat nyata semesta asa yang bersemayam di dada. Bukan apaapa, hanya sekedar minum segelas the hangat dan sekotak martabak yang tak habis kita makan tadi malam. Sambil menikmati hilir mudik burung gereja di kerindangan pohon yang entah kapan ditanam.

Subhanalloh, hanya seperti itu pun membuatku benar2 bahagia…

Tadi pagi, ketika airmata itu menghiasi pipimu yang merona merah –dan aku senang menyebutmu humairo’-, sungguh tak ku sangka, bahwa perpisahan yang sementara pun dapat menggoreskan luka yang nyata, luka yang membuatku tersenyum dan berbisik ‘aku mencintaimu Sayang…’

Ingatkah ketika kita dalam perjalanan itu? Bahkan decit roda kereta iri pada kemesraan kita. Apa yang kau rasakan ketika bisa duduk berdua dengan gadis yang engkau cintai dan dia pun mencintaimu? Apa yang engkau rasakan ketika menggenggam erat tangan seorang gadis yang sebelumnya tak pernah kau pegang? Apa yang engkau rasakan ketika seorang gadis merebahkan kepalanya di bahumu?…dan engkau tahu, bahwa gadis itu adalah istrimu…