Pernah ada rasa yang sayupsayup dalam kabut. Yang berdentang bersama detak jam, menanam rindu pada petak asa kerontang. Mungkin rintik gerimis atau tangis netes pada luka. maka sepanjang jalanan lengang di simpang kenangan kuukir graffiti mimpimimpi maupun sakit pada sunyi tersembunyi
Lalu aku begitu lelah. Memaknai ribuan darah dan rasa tenggelam dalam salah. Sebab sajaksajak lama terakrabi, memeram ingin yang tercabikcabik meronta ngeri. Bercerita pada langit, pada sepi yang memerikan ingatan tentang; dering telepon, catatan harian, lalu perih dan rintih yang paling
Karena musim membenamkan kepalaku pada tembok sementara sisa suara berlalu terlalu siasia, lewat udara,
: sepitakpernahmati
Seperti puisi
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 02 Juli 2009
Minggu, 28 Juni 2009
Sampah segala sumpah
maka ketika kuucapkan selamat tinggal, padamu kutanggalkan helaihelai rambut yang memutih. bukan melati, bukan arca malaikat tanpa hati atau kecupan sebilah belati. akulah manusia.
Sementara ditiaptiap tembok persimpangan, graffiti nama kita terukir begitu saja. entah siapa yang teriak, tibatiba serentak semua bergejolak. meski akhirnya cuma kita yang setia pada derik gerobak. sampah segala sumpah.
kemana lagi melarikan mimpi. mata, hari, hati terlalu gersang. tongtong sampah penuh deretan usang catatan pelajaran anakanak kecil bertema keadilan. Entah apa yang makna. Toh buku harian selalu sejelaga tungku batu bara. Mungkin kita yang masih enggan mengerti, menggali airmata di
hanya andai mungkin masih kita punya. tentang esok, apalagi bulan depan, sungguh aku tak tahu. Hari ini lilin belum habis membakar diri. Nanti malam, kita bangun lagi mimpimimpi. Sambil menghancurkan mimpi yang kemarin lusa tak habis kita tangisi.
tapi……. aku pergi dulu. Jangan menunggudanmencari bila senja aku tak kembali. tidur, dan jelmakan mimpi kita esok hari. atau mungkin seabad lagi!
Kamis, 25 Juni 2009
Puisi untukmu
Aku butuh katakata sederhana
Untukku, untukmu,
Seperti dulu ketika aku
Masih mampu menuliskan
Sepi. Sesederhana ini :
“sepi;
Lalu kutulis sebaris puisi”
.
.
.
Untukku, untukmu,
Seperti dulu ketika aku
Masih mampu menuliskan
Sepi. Sesederhana ini :
“sepi;
Lalu kutulis sebaris puisi”
.
.
.
Sabtu, 06 Juni 2009
Purnama 12
Mimpi itu kamu, siapa tahu
Berkelindan dengan resah dan
Kisah
Jejak malam senyap, merayap
Menata hujan sejak sore tadi
: gerimis bulan Juni
kita
Bersitatap, dari jendela masingmasing gelap
Dan ketika 12 purnama
Telah abadi
Mengekalkan sesaat, senja dan pagi
Maka benih cahaya itu
Fragmen ombak di pelabuhan kecil itu
Adalah algoritma tak sudah
Berkesah masih selaksa gundah
Seperti rangkaian pledoi malam dan matahari
Dalam bahasa embun yang tak pernah
Mengenal arti
: Aku Mencintai
Minggu, 10 Mei 2009
Januari dan gerimis
Januari dan gerimis. Dimana kau dimana aku. Dari semalam kudengar rintik hujan menghujam membasah bumi. Laksana siraman airmata anak-anak awan yang mencumbu kesepian. Kesepian yang merajam dalam bias-bias kenangan yang masih enggan tanggal. Dan tiap-tiap pagi yang senantiasa sunyi, gerimis selalu merintikkan larik-larik cemas pada paras yang kandas.
Sadarkah?
Harapan yang terlalu kecil kadang serupa dengan hukuman yang cukup kejam!…….
Januari dan gerimis. Dimana kau dimana aku. Entah sudah berapa januari dan gerimis yang aku maknai dalam kesendirian yang kian mencekam. Aku ingin bicara, tapi aku di ruang hampa. Aku ingin bercerita: tentang resah dan gelisah yang tak berawalan dan tak berakhiran, tentang sepi yang kita lukis serupa mentari, tentang tawa yang kita maknai dengan lengkung pelangi, tentang januari, tentang gerimis, tentang kita. Tapi lidah selalu saja tak dipercayai, sementara hati terlalu sia-sia tuk dimengerti.
Mungkin kau merasa terlalu letih terus berperahu bersamaku tanpa pernah singgah disebuah dermaga pun. Mungkin kau sudah bosan dengan laut, dengan sepi dan matahari, dengan tawa dan lengkung pelangi, dengan puisi yang diilhami mimpi-mimpi lalu ditulis oleh jemari sunyi.
Atau mungkin januari dan gerimis terlalu suci tuk kita maknai bersama hari-hari yang makin mati?
Atau mungkin edelweiss tak lagi abadi?
Akh…… terlalu banyak kemungkinan dalam ketidakpastian. Dan ketidakpastian adalah kepastian itu sendiri. Andai saja kata mampu menjernihkan segala. Atau mungkin diam akan jauh lebih bermakna.
Bukankah tak ada sebuah dermaga pun yang sanggup memberikan segalanya sesempurna yang laut berikan pada kita: kebebasan. Bukankah matahari yang kita temui tiap-tiap pagi –seperti kata Heraclitus- selalu baru. Bukankah pelangi yang kita cumbui saat januari dan gerimis selalu mampu meneduhkan resah jiwamu dan jiwaku dalam jiwaku dan jiwamu.
Bukankah ribuan puisi yang kita tulis pada langit, lalu kita terbangkan bersama sayap-sayap angin telah mengilhami berjuta mahluk untuk meresapi dan menikmati kebebasan dan kebersamaan diluar batas alasan, seperti kita?
Dan bukan kah edelweiss akan selalu abadi? Di hatiku; di hatimu. Begitu kataku. Dalam hati.
I sat there waiting-waiting for nothing
Enjoying, beyond good and evil, now
The light, the shade; there was only
The day, the lake, the noon, time without end
-Nietzsche-
Januari. Dan gerimis. Dimana kau dimana aku. Aku rindu.
Sadarkah?
Harapan yang terlalu kecil kadang serupa dengan hukuman yang cukup kejam!…….
Januari dan gerimis. Dimana kau dimana aku. Entah sudah berapa januari dan gerimis yang aku maknai dalam kesendirian yang kian mencekam. Aku ingin bicara, tapi aku di ruang hampa. Aku ingin bercerita: tentang resah dan gelisah yang tak berawalan dan tak berakhiran, tentang sepi yang kita lukis serupa mentari, tentang tawa yang kita maknai dengan lengkung pelangi, tentang januari, tentang gerimis, tentang kita. Tapi lidah selalu saja tak dipercayai, sementara hati terlalu sia-sia tuk dimengerti.
Mungkin kau merasa terlalu letih terus berperahu bersamaku tanpa pernah singgah disebuah dermaga pun. Mungkin kau sudah bosan dengan laut, dengan sepi dan matahari, dengan tawa dan lengkung pelangi, dengan puisi yang diilhami mimpi-mimpi lalu ditulis oleh jemari sunyi.
Atau mungkin januari dan gerimis terlalu suci tuk kita maknai bersama hari-hari yang makin mati?
Atau mungkin edelweiss tak lagi abadi?
Akh…… terlalu banyak kemungkinan dalam ketidakpastian. Dan ketidakpastian adalah kepastian itu sendiri. Andai saja kata mampu menjernihkan segala. Atau mungkin diam akan jauh lebih bermakna.
Bukankah tak ada sebuah dermaga pun yang sanggup memberikan segalanya sesempurna yang laut berikan pada kita: kebebasan. Bukankah matahari yang kita temui tiap-tiap pagi –seperti kata Heraclitus- selalu baru. Bukankah pelangi yang kita cumbui saat januari dan gerimis selalu mampu meneduhkan resah jiwamu dan jiwaku dalam jiwaku dan jiwamu.
Bukankah ribuan puisi yang kita tulis pada langit, lalu kita terbangkan bersama sayap-sayap angin telah mengilhami berjuta mahluk untuk meresapi dan menikmati kebebasan dan kebersamaan diluar batas alasan, seperti kita?
Dan bukan kah edelweiss akan selalu abadi? Di hatiku; di hatimu. Begitu kataku. Dalam hati.
I sat there waiting-waiting for nothing
Enjoying, beyond good and evil, now
The light, the shade; there was only
The day, the lake, the noon, time without end
-Nietzsche-
Januari. Dan gerimis. Dimana kau dimana aku. Aku rindu.
Langganan:
Postingan (Atom)
