Selasa, 21 Juli 2009
Sajak sebutir tanah merah
Si sulung meringis. Mau menangis bersama gerimis yang turun sejak kemarin sore. Tapi matanya sudah terlalu sembab. Terlalu banyak sebab.
Kau tengadah. Mungkin memohon anugerah. Sejak tengah malam hingga celoteh daun pisang mengusik minta ditebang. Kau memang ayu meski matamu tak lagi peduli waktu. Maafkan aku wahai cintaku
Kemarin sore sehabis maghrib, si bungsu menangis. Dia lapar. Begitu kami mengartikannya. Lalu diam. Begitu hening. Mungkin tertidur begitu lelap
“Tinggal kita berdua yang masih terjaga sayang”
begitu katamu malam itu
“ya, Dan seekor kucing dengan kepala ikan asin terpojok di dinding”
kataku
Selasa, 14 Juli 2009
Stock Option
Senin, 13 Juli 2009
Silhuet di balik batu
Disana sini ku selipkan sepi
Pada batu, pada buih, pada desau
Debudebu
Hari yang paling jelaga!!
Langit menggayut mesra lenganlengan
Tanpa cela
Pun titik hitam di kening
Isyaratkan sebuah andai
Membadai
Atau masih sajakah kita
Tertawakan; luka: ha...ha…*
Disela Lalu
“Dimana ibuku?”
candamu,
entah ku harus ragu
atau kubiarkan pilu berkubang
di dadamu
begitu mungkin sapa waktu
yang mulai terlalu rindu
pada batubatu
“tapi dimana ibu?”
sebuah kata, tanya pada jasad
makin kaku
Ahasveros II
sudutsudut kubisme
jika hidup adalah mimpi
atau kita putari waktu
lingkaran tahuntahun
reruntuhan airmata
tanpa
rasa pun makna
mungkin juga seperti
aku
: pengembara tanpa peta
tanpa
jiwa
tapi bukan tanpa
apaapa
Tentang cahaya
Aku tak tahu apaapa
Aku tak ingat
Sejak kapan saat jadi samar
Mungkin sekedar
Serpihan diam
Dalam kamar yang kian hambar
Sial
Lagilagi aku hilang ingatan
Siapakau siapaaku
AhahahA
Mana cahaya
Aku masih belum buta
Minggu, 12 Juli 2009
Bungabunga airmata
Sebab luka tak harus airmata
Mungkin warna dan aroma senja
adalah
Campuran bunga dan airmata
Mungkin juga
wangi mesiu
dan sedikit pilu
yang (masih) mampir di dada
masingmasing
komandan perang
“indah bukan?”
Kamis, 09 Juli 2009
Pemerintah Cina Larang Shalat Jum'at
Larangan ini diterbitkan beberapa hari setelah kekerasan etnis antara warga Muslim Uighur dan suku Han. Sejauh ini kerusuhan tersebut telah menewaskan 156 orang.
Ribuan tentara masih menjaga ketat di setiap sudut Urumqi, ibukota Provinsi Xinjiang, untuk mencegah terulangnya kerusuhan.
Pemerintah Cina menegaskan telah memerintahkan hukuman tegas bagi mereka yang terlibat kekerasan.
Seorang pejabat pemerintah yang enggan disebutkan namanya kepada AP menganjurkan agar masyarakat melakukan ibadah di rumah daripada berkumpul di masjid-masjid.
Pejabat itu menambahkan larangan berkumpul di masjid-masjid diterbitkan demi terjaminnya keamanan publik.
Jaringan Al-Qaeda
Tentara masih berjaga di seluruh kota Urumqi
Kerusuhan itu terjadi hari Minggu lalu saat warga suku Uighur menggelar unjuk rasa mengecam bentrokan antara suku Uighur dan Han beberapa pekan sebelumnya di sebuah pabrik mainan di Provinsi Guangdong.
Laporan resmi pemerintah menyatakan 156 orang tewas dan sebagian besar dari korban tewas adalah suku Han.
Kelompok suku Uighur mengatakan korban tewas jauh lebih banyak. Mereka mengklaim 90% korban tewas adalah suku Uighur.
Kerusuhan itu juga menyebabkan lebih dari 1.400 orang ditahan.
Kemarin, pemerintah Cina mengatakan telah memperoleh bukti-bukti kuat bahwa beberapa orang yang terlibat kerusuhan itu pernah menerima pelatihan dari kelompok-kelompok teroris asing termasuk Al-Qaeda.
Sayangnya, Menteri Luar Negeri Cina Qin Dang tidak menyebutkan apa saja buktu-bukti tersebut, namun dia mengatakan kelompok-kelompok tersebut sangat kuat terkait dengan tiga kelompok teroris luar negeri.
Ketegangan telah berlangsung selama bertahun-tahun di Provinsi Xinjiang. Kondisi itu dipicu saat suku Han pindah secara besar-besar ke kawasan yang merupakan pusat warga minoritas Uighur.
Sebagian besar suku Uighur merasa mereka tidak merasakan kemajuan ekonomi dan mereka juga merasakan diskriminasi dalam berbagai hal.
IslamPhobia, Tragedi Di Jerman
Tragedi pada 1 Juli 2009 itu begitu tragis. Marwa El Sherbini (32) dan suaminya sedang menggugat Alexander W (28) di Pengadilan Dresden atas penghinaan yang bersifat rasis. Saat Marwa selesai membaca pembelaan diri, Alexander langsung kalap dan tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau.
Perempuan berjilbab yang sedang mengandung itu ditikam 18 kali di depan hidung hakim. Sang suami mencoba melindungi dan ikut ditikam. Di tengah suasana kacau, polisi pun datang. Namun yang mengherankan, polisi malah menembak kaki sang suami. Marwa tewas dan suaminya dilarikan ke rumah sakit. Alexander digelandang ke kantor polisi.
Apa penyulut tragedi yang menimpa pasangan asal Mesir ini? Seperti dilansir Deutche Welle, Kamis (9/7/2009), suami Marwa adalah mahasiswa program doktor di Dresden, Marwa sendiri adalah seorang apoteker di kota yang sama. Tragedi bermula dari penghinaan bernada rasis oleh Alexander W, warga negara Jerman keturunan Rusia yang sedang menganggur.
Pada Agustus 2008, Marwa sedang bermain di taman bersama putranya, Mustafa (3). Alexander dan keponakannya juga sedang bermain ayunan di tempat yang sama. Saat Marwa ingin meminjam ayunan untuk Mustafa, yang didapatkannya adalah penghinaan.
“Pelacur (Schlampe)! Teroris (Teroristin)!“ hardik Alexander saat itu.
Marwa yang tersinggung, bersama suaminya kemudian menuntut Alexander di Pengadilan Dresden. Hakim memutuskan Alex harus membayar denda 780 Euro. Namun sidang pada 1 Juli 2009 lalu itu berakhir dengan penuh darah.
Tragedi ini sangat menggegerkan Jerman. Menteri Hukum negara bagian Sachen, Macken Geert Roth, datang ke lokasi pada hari yang sama.
“Kami sangat syok dan sangat berduka cita kepada pihak keluarga korban,“ ujar Roth seperti dilansir Stern.
Protes lebih besar datang dari seluruh komunitas muslim di Jerman, yang menilai telah terjadi tragedi akibat Islamophobia. Mereka menuntut adanya penyataan sikap tidak hanya dari pejabat negara bagian, melainkan dari pemerintah Federal. Sementara, di berbagai masjid di Jerman diserukan untuk melakukan salat gaib.
http://www.detiknews.com/read/2009/07/10/132357/1162677/10/islamophobia-guncang-jerman
catatan : Adapun Shalat Gaib, maka hanya dilakukan jika seorang muslim meninggal dunia dan tak ada yang menshalatkan jenazahnya. jika sudah ada yang menshalatkan, maka tidak disyariatkan melakukan shalat ghaib.
jika seandainya shalat ghaib disyariatkan sebagaimana yang dilakukan sebagian orang pada kisah di atas, maka kenapa ketika para sahabat meninggal, tidak dilakukan shalat ghaib?
Mari bermimpi
Pada gugur tapak kamboja
Di atas pekuburan
Di atas namanama
Mungkin juga kita
Terselip di antaranya
Juga ketika anyir nafasmu
Ku ungsikan dalam botol kaca
Bersama pijar rembulan
Dan badai yang andai
Mungkin
Melati masih terlalu suci
Sementara kulit makin penuh duri
Ah…. Sudahi saja
Pagi ini
Mari bermimpi
lagi!
Minggu, 05 Juli 2009
Ahasveros
Tiap pijar fajar sebelum menepi subuh, sebelum embun luruh, angin masih kuncupkuncup selimut kabut. Maka kubuka kembali peta, dengan titiktitik yang masih enggan bernama, dan belantara yang airmata, dan masa yang senantiasa tanya
Akulah pengembara. Setia kujelajahi cahaya. Pada tiangtiang langit kukibarkan seutas sepi. Mungkin angin tenggara sudi menyulam sehelai bendera. Sekembali aku dari negeri penantian mimpi. Ku kumandangkan pada purnama; sebab matahari selalu terbagi dan bumi terlalu suci kucemari. Luka.
Lalu tiap pagi yang mentari, aku lingkari angkaangka, di kalender yang ituitu juga. Sebab tiap tahun angka selalu sama. Hari tetap tujuh, bulan masih dua belas. Hanya aku selalu lupa, sudah berapa tahun hidup tanpa jiwa.
Jumat, 03 Juli 2009
ada yang selalu hilang
Tiap purnama aku kehilangan Bulan
Maka yang kumaknai hanya
Andai dan cacimaki
negeri sendiri makin tanpa arti
bahkan hari berkeluh
“lipat kembali pagi ini
mari tidur dan teruskan mimpi,
sendirisendiri”
Kamis, 02 Juli 2009
Notasi sepi
Lalu aku begitu lelah. Memaknai ribuan darah dan rasa tenggelam dalam salah. Sebab sajaksajak lama terakrabi, memeram ingin yang tercabikcabik meronta ngeri. Bercerita pada langit, pada sepi yang memerikan ingatan tentang; dering telepon, catatan harian, lalu perih dan rintih yang paling
Karena musim membenamkan kepalaku pada tembok sementara sisa suara berlalu terlalu siasia, lewat udara,
: sepitakpernahmati
Seperti puisi